|
|
kab.Solok.Padang,
Rombongan napak tilas yang dipimpin Ketua DPRD Kabupaten Solok Syafril
Dt. Siri Marajo, dilaporkan hilang di hutan yang
membentang dari Solok-Padang. Tim SAR sudah turun melakukan pencarian
sejak Senin (27/5). Namun hingga Senin malam belum ada kabar beritanya.
"Penyisiran
dilakukan dari arah berlawan dari rombongan. Tim SAR sudah menyisir dari Koto
Lalang Belimbing, Kuranji, Kota Padang," ujar Kepala BPBD Padang, Budhi Erwanto.
Rombongan yang berjumlah 51 orang ini start napak
tilas dari Nagari Koto Sani, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten
Solok pada Sabtu (25/5) pagi. Direncanakan tiba di wilayah Kota Padang,
Sumatera Barat pada Minggu (26/5). Namun hingga Senin (27/5) rombongan belum muncul.
Kuat dugaan
lokasi hilang rombongan napak tilas Ketua DPRD Solok ini sama dengan
lokasi hilangnya Bupati Solok Gawaman Fauzi pada waktu dulu. "Kalau
tidak salah
loasi rute napak tilas ini pernah dilalui Gamawan Fauzi waktu menjadi
Bupati Solok dulu, yang juga hilang beberapa hari kemudian ditemukan
lagi," ujar Hendri, warga Paninggahan, Solok.
Ada juga yang menyebutkan kawasan yang dilalui rombongan napak tilas ini
sarat dengan unsur magis dan merupakan kawasan penuh kekuatan ghaib.
Ini dikuatkan senior KPA Galapagos, Yudi. Katanya, hutan di Paninggahan
masih termasuk perawan dan kuat unsur magisnya. "Pengalaman teman-teman,
penujuk arah kompas saja pernah tidak bergerak di hutan ini," kata
Yudi.
Kepala BPBD Kota Padang Budhi Erwanto membantah soal kekuatan magis itu.
Katanya, kemungkinan rombongan tertahan karena aliran sungai di kawasan
hulu meluap. "Kita harapkan rombongan berada dalam kondisi baik," kata
Budhi.
Budhi belum bisa memastikan kapan rombongan napak tilas Ketua DPRD
Kabupaten Solok ini bakal memasuki wilayah Kota Padang. "Sampai
malam ini petugas BPBD Kabupaten Solok serta BPBD dan Pemadam
Kebakaran Kota Padang masih menunggu rombongan di wilayah
perkampungan Pasar Lalang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang," ujar Budhi.
tentu hal ini mengigatkan kita akan kejadian yang serupa yang menimpa bapak menteri Dalam negeri Gamawan Fauzi
Gamawan yang Pernah Hilang 5 Hari di Rimba
Saat menjadi Bupati Solok, Gamawan tersesat di rimba Bukit Barisan.
Banyak prestasi yang diraih Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi
selama berkarier di panggung birokrasi. Tapi siapa sangka karier melejit
ini diperolehnya setelah hilang selama lima hari di hutan kawasan Bukit
Barisan?
Bagi Gamawan, peristiwa ini yang dikatakannya sebagai cobaan terberatnya selama menjadi Bupati Solok. Tak bisa dipungkiri, lolos dari lebatnya hutan Bukit Barisan menjadikan Gamawan Fauzi semakin populer di mata publik Sumatera Barat.
Sejumlah media massa lokal maupun nasional menayangkan kisah Gamawan yang berhasil ditemukan dengan selamat setelah hilang lima hari itu. Sebelum kejadian pada Agustus 1999 itu, Gamawan hanya dikenal sebagian besar masyarakat Solok dan sejumlah birokrat di Sumatera Barat.
"Harus diakui, popularitas beliau meningkat setelah kejadian itu. Mungkin ada orang menilai peristiwa itu sebagai sensasi pak Gamawan untuk mencari popularitas, tapi sebenarnya bukan seperti itu," kata Johnny Roozeno (60 tahun), komandan pencarian Gamawan Fauzi serta petinggi daerah Kabupaten Solok yang hilang saat itu.
Menurut Johnny yang menceritakan kembali peristiwa itu Senin 19 Oktober 2009, Gamawan melakukan napak tilas dari Desa Paninggahan, Kabupaten Solok, menuju Lubuk Minturun, Kota Padang, atas dasar permintaan ninik mamak Paninggahan. Saat itu, rombongan Gamawan dan sejumlah pejabat di kabupaten tersebut meninjau tanah ulayat masyarakat Paninggahan yang berperkara dengan Belanda. Dalam kondisi normal, jalan tembus dari Kabupaten Solok menuju Padang bisa dicapai dalam tempo 18 jam.
Namun setelah sehari perjalanan, rombongan Gamawan dan terpecah menjadi tiga rombongan besar ini diakibatkan karena tawon tanah yang mengamuk. "Kondisi ini yang memecahkan rombongan Gamawan menjadi tiga dan keluar dari hutan pada tiga lokasi berbeda," kata Johnny.
Tim yang dikomandoi Johnny berhasil mengetahui kondisi Gamawan dan rombongan pada hari ketiga setelah terpisah. Komunikasi tim pencari dengan rombongan Gamawan berlanjut lewat handy talky yang kebetulan tertangkap gelombangnya. Pada hari keempat, tim pencari berhasil menemukan Gamawan dengan 115 rombongannya dalam kondisi terisolasi di patahan bumi yang merupakan air terjun. "Beliau terharu saat kita temui dan kondisinya sangat kekurangan makanan," kata Johnny.
Bagi Gamawan, hilang selama lima hari di hutan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi dirinya. Kejadian ini dianggapnya sebagai cobaan terberat yang dialami sepanjang karirnya sebagai bupati. Dan, tak bisa dipungkiri, setelah kejadian itu popularitasnya meningkat dan berhasil mendapatkan sejumlah penghargaan dari presiden.
Enam tahun setelah kejadian itu, Gamawan berhasil duduk sebagai Gubernur periode tahun 2005 hingga 2010. Belum genap lima tahun menjalankan tugas, Gamawan juga diprediksi akan mengisi kursi Menteri Dalam Negeri di kabinet SBY-Boediono.
Bagi Gamawan, peristiwa ini yang dikatakannya sebagai cobaan terberatnya selama menjadi Bupati Solok. Tak bisa dipungkiri, lolos dari lebatnya hutan Bukit Barisan menjadikan Gamawan Fauzi semakin populer di mata publik Sumatera Barat.
Sejumlah media massa lokal maupun nasional menayangkan kisah Gamawan yang berhasil ditemukan dengan selamat setelah hilang lima hari itu. Sebelum kejadian pada Agustus 1999 itu, Gamawan hanya dikenal sebagian besar masyarakat Solok dan sejumlah birokrat di Sumatera Barat.
"Harus diakui, popularitas beliau meningkat setelah kejadian itu. Mungkin ada orang menilai peristiwa itu sebagai sensasi pak Gamawan untuk mencari popularitas, tapi sebenarnya bukan seperti itu," kata Johnny Roozeno (60 tahun), komandan pencarian Gamawan Fauzi serta petinggi daerah Kabupaten Solok yang hilang saat itu.
Menurut Johnny yang menceritakan kembali peristiwa itu Senin 19 Oktober 2009, Gamawan melakukan napak tilas dari Desa Paninggahan, Kabupaten Solok, menuju Lubuk Minturun, Kota Padang, atas dasar permintaan ninik mamak Paninggahan. Saat itu, rombongan Gamawan dan sejumlah pejabat di kabupaten tersebut meninjau tanah ulayat masyarakat Paninggahan yang berperkara dengan Belanda. Dalam kondisi normal, jalan tembus dari Kabupaten Solok menuju Padang bisa dicapai dalam tempo 18 jam.
Namun setelah sehari perjalanan, rombongan Gamawan dan terpecah menjadi tiga rombongan besar ini diakibatkan karena tawon tanah yang mengamuk. "Kondisi ini yang memecahkan rombongan Gamawan menjadi tiga dan keluar dari hutan pada tiga lokasi berbeda," kata Johnny.
Tim yang dikomandoi Johnny berhasil mengetahui kondisi Gamawan dan rombongan pada hari ketiga setelah terpisah. Komunikasi tim pencari dengan rombongan Gamawan berlanjut lewat handy talky yang kebetulan tertangkap gelombangnya. Pada hari keempat, tim pencari berhasil menemukan Gamawan dengan 115 rombongannya dalam kondisi terisolasi di patahan bumi yang merupakan air terjun. "Beliau terharu saat kita temui dan kondisinya sangat kekurangan makanan," kata Johnny.
Bagi Gamawan, hilang selama lima hari di hutan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi dirinya. Kejadian ini dianggapnya sebagai cobaan terberat yang dialami sepanjang karirnya sebagai bupati. Dan, tak bisa dipungkiri, setelah kejadian itu popularitasnya meningkat dan berhasil mendapatkan sejumlah penghargaan dari presiden.
Enam tahun setelah kejadian itu, Gamawan berhasil duduk sebagai Gubernur periode tahun 2005 hingga 2010. Belum genap lima tahun menjalankan tugas, Gamawan juga diprediksi akan mengisi kursi Menteri Dalam Negeri di kabinet SBY-Boediono.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar