Musik

Rabu, 20 Maret 2013

 
 
 
 
JUAL: Lauk Bilih Khas Paninggahan



Bilih 7 Muaro
More Than Just a Snack Food from paninggahan


Online shop (P a y p a l): http://renoyasri.blogspot.com/

"Rasa dari olahan ikan bilih ini adalah jawaban mengapa kita harus menjaga dan melestarikan alam Minang Kabau agar ikan purba ini tetap nyaman berenang dan berkembang biak di Danau Singkarak"

~Reno Yasri , Minang Kabau Nature Lovers~




Our Product List :




Bilih Original Flavour
Price: Rp. 50.000 @ 500 g
Available Stock: Ready Stock
Minimum Order : 500grams (1pack)




Bilih Balado Flavour
Price: Rp. 60.000 @ 500 g
Available Stock: Out Of Stock
Minimum Order : 500 grams (1pack)


FYI : SEMUA HARGA YANG TERTERA BELUM TERMASUK ONGKOS KIRIM


Panduan memesan:
1. Pilih produknya dan baca ketentuan minimum ordernya.
2. Pemesanan bisa dilakukan lewat SMS atau email [For fast response please Call/SMS]
3. Sesudah pesanan dikonfirmasi, maka Anda bisa transfer via Rekening BRI
4. Kami akan melakukan Checking ke rekening.
5. Pesanan akan dikirim dan sampai dalam waktu beberapa hari [Tergantung jarak pengiriman].
6. Biaya ongkos kirim belum termasuk dalam harga yang tertera.




CONTACT US

Phone Number : 085355655756
Email : http://renoyasri.blogspot.com/
DINKES P-IRTP No. 202130301041


Last edited by viruskaskus; 22nd November 2011 at 23:00.. Reason: Jual Ikan Bilih / Lauk Bilih asli Danau Singkarak - Izin Dinas Kesehatan
Reply With Quote

Selasa, 19 Maret 2013

 

Pemandian Mata Air “Ulu Aie” Nagari Paninggahan Kabupaten Solok – Sumbar

Menyusuri Kabupaten Solok Propinsi Sumatera Barat ke utara tepatnya di Nagari Paninggahan Kecamatan junjung sirih, kita akan disuguhkan suasana nyaman dan sejuk dengan pemandangan indah Danau Singkarak yang dikelilingi perbukitan dan bahkan ke arah utara Gunung Merapi dan Singgalang sebagai latarnya, apalagi jika dipandang dari atas perbukitan di Paninggahan tentu saja tak akan membuat bosan mata memandangnya.
Namun di nagari Paninggahan ternyata menyimpan potensi wisata lainnya, salah satunya adalah “Pemandian Ulu Aie” yang terletak di Jorong Koto Baru Tambak Nagari Paninggahan Kecamatan junjung sirih yang berjarak sekitar 45 Km dari Arosuka sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Solok.
Pemandian Ulu Aie terletak di pinggang perbukitan berasal dari mata air yang cukup besar (seukuran badan kerbau-red) dan tidak pernah henti memancarkan airnya
.
Menurut Syafar yang sehari-hari selalu menjaga dan mengawasi pemandian tersebut menuturkan bahwa awal terjadinya pemandian ini konon dikarenakan niniak (orang tua zaman dahulu) yang kebingungan untuk menempatkan ternak kerbaunya yang tidak ada tempat untuk bakubang (berendam dengan lumpur) dikarenakan kemarau yang panjang, maka ia bakaua (berdoa dan bernazar) dilokasi tersebut, maka atas izin Tuhan YME maka muncullah mata air tersebut.
Air tersebut kemudian juga dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan untuk mengairi persawahan oleh masyarakat setempat, bahkan air Pemandian Ulu Aie tersebut dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan juga untuk mendapatkan keturunan.
Hal tersebut dibenarkan Bahri, tokoh masyarakat Jorong Koto Baru Tambak “boleh percaya atau tidak, sudah banyak yang mandi disini dan berniat untuk dimudahkan untuk mendapatkan keturunan”.
ia menambahkan bahwa masyarakat sekitar bahkan dari luar Kabupaten Solok seperti dari Jambi, Pekanbaru, Kota Solok yang melaksanakan ritual di lokasi ini, apalagi ketika akan memasuki bulan ramadhan dan hari raya. “Kalau sudah akan memasuki bulan Puasa dan hari raya, ratusan bahkan ribuan pengunjung yang datang setiap hari untuk balimau” ujarnya.
Pemandian Ulu Aie yang dibangun dam dan pondasinya pada tahun 2005-2006 melalui sumbangan dari masyarakat setempat dibagi dalam 2 bagian dimana air memancar keluar, yaitu kolam khusus wanita, khusus pria dan 1 kolam yang lebih besar bagi pengunjung yang ingin berenang dan bahkan sudah dilengkapi dengan kamar untuk ganti pakaian.
tidak ada salahnya berkunjung ke Pemandian Ulu Aie ini, karena lokasi pemandian bisa ditempuh dengan kendaraan roda 4 dan mempunyai area parkir yang luas serta pengunjung hanya dikenakan biaya tiket masuk Rp. 3000,- per orang sepuasnya dan dana yang terkumpul untuk Kas dan pembangunan di Jorong Koto Baru Tambak.
About these ads

Jumat, 15 Maret 2013

WELCOME TO BLOGGER RENO YASRI

ANYAMAN PANINGGAHAN

 
 ISTANA PANDAN PANINGGAHAN
         
        ISTANA PANDAN, didedikasikan kepada seluruh elemen pendukung. Mulai dari masyarakat pengrajin mandiri, pengrajin upahan, pengusaha diversifikasi produk anyaman pandan, pedagang pengumpul dan pengecer, para konsumen dan penikmat setia produk kerajinan rakyat anyaman pandan, untuk pemerintah dan swasta yang telah, sedang dan akan memberikan perhatian, pembinaan serta bantuan moril dan materil demi eksistensi kerajinan tradisional (rakyat) kita, kepada bapak/ibu angkat yang telah berjasa, bagi para sukarelawan yang peduli, bahkan juga kepada mereka yang sekedar menyaksikan segala kondisi yang dihadapi oleh masyarakat kecil pengrajin anyaman penjaga dan perekat tradisi yang telah membentangkan budaya demi membangun kehidupan keluarga. Tidak lupa juga kepada para pengusaha TIKAR PLASTIK dan SEJENISnya.
Dedikasi kami tujukan special kepada PENGRAJIN ANYAMAN PANDAN DI NAGARI PANINGGAHAN KECAMATAN JUNJUNG SIRIH KABUPATEN SOLOK, khususnya Sumatera Barat, Indonesia Umumnya.
__________________________

TIKAR PLASTIK, TIKAR PANDAN
Tikar plastik, tikar pandan
Kita duduk berhadapan
Foto: Koleksi Pribadi, Sumber: 'Sanggar Anyaman 'Perdana'
Tikar plastik, tikar pandan
Lambang dua kekuatan
Tikar plastik, bikinan pabrik
Tikar pandan, dianyam tangan
Tikar plastik makin mendesak
Tikar pandan yang bertahan
Tikar plastik, tikar pandan
Tikar plastik, tikar pandan
Kalian duduk dimana….?



 ‘KEPING’ (Kelompok Pinggiran), mereka adalah sekelompok mahasiswa yang melakukan sebuah aksi peduli kerajinan rakyat pada tahun 1997 di sekitar Solo Jawa Tengah. Sebagai atribut gerakkan, syair lagu ‘tikar palstik, tikar pandan’ dengan kentara memuat pesan dua kekuatan. Kekuatn modal Tikar Plastik yang mendesak dan mengancam eksistensi Tikar Pandan. (Sumber: Dok. Pusat Studi Antar Komunitas (PUSAKA), Padang, 2002 dalam Yonni Saputra, Kerajinan Anyaman Pandan DI Paninggahan Kecamatan Junjung SIrih Kabupaten Solok, 1987-1998. Skripsi Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang, 2004).
Foto: Koleksi Pribadi (2004), Sumber: Anyaman Pandan 'Perdana'

Kamis, 14 Maret 2013



Kopi paninggahan

kopi ulu Paninggahan: agroforestri kopi tradisional dari Paninggahan
Posted By R
eno yasri pada 20/04/12 15:23
Item ini dapat dilihat oleh Dunia (misalnya Google)                       31466_164816977002256_322675386_n.jpg


Sejarah kopi robusta di Paninggahan adalah story.Figure menarik 1. Kopi Ulu, spesies kopi Robusta asli sebagai salah satu kekayaan plasma nutfah di di Paninggahan

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari masyarakat setempat, kopi pertama di Paninggahan adalah spesies Robusta. Secara historis, sebuah 1050 ha kopi enclave di Paninggahan, terletak di antara 700 dan 900 mdpl di lereng bukit utara Danau Singkarak, adalah Robusta yang paling penting perkebunan kopi di Sumatera Barat.

Pada tahun 1826, pemerintah kolonial Belanda memulai program perkebunan kopi di daerah untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Masyarakat setempat menuntut agar mereka mengelola perkebunan sendiri tetapi akan menjual seluruh produksi kepada pemerintah kolonial. Pada awal program, semua pasangan yang baru menikah di daerah Paninggahan diwajibkan untuk membersihkan 2 ha hutan untuk tanaman kopi robusta. Hari ini daerah ini dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Kopi ulu.

Pada tahun 1932, tokoh masyarakat setempat mengimbau kepada pemerintah Belanda untuk perkebunan kopi yang akan dikembalikan kepada masyarakat. Permintaan itu kemudian diberikan di bawah tidak ada keputusan. 469/B/1934. Popularitas antara orang-orang lokal Kopi ulu mulai menurun selama 1950-1965 karena ada banyak kegiatan pemberontak di daerah yang takut sebagian besar petani. Harga kopi juga turun selama periode tersebut dan petani tidak lagi termotivasi untuk mengelola lahan mereka karena pohon kopi tua yang dihasilkan jauh lebih sedikit daripada yang dibutuhkan untuk menutupi biaya produksi yang tinggi. Akhirnya, para Kopi ulu daerah ditinggalkan.








                                                              image_gallery.png
Pada saat ini, dengan harga kopi dunia pada tinggi, petani dari Desa Paninggahan ingin merevitalisasi daerah ulu Kopi ditinggalkan. Dalam wilayah ulu thekopi ada kantong kopi di dalam lahan hutan negara yang diakui sebagai milik desa Paninggahan. Kantong ini terletak di mana kebun kopi tradisional sebagian besar telah ditumbuhi oleh hutan sekunder setelah daerah itu ditinggalkan pada tahun 1958.
image_gallery.png

Gambar 2. Peta daerah kantong Kopi Ulu di daerah Paninggahan. Daerah ditampilkan dalam warna merah (Sumber: Nagari Paninggahan kantor) The Upland Menghargai Buruk untuk Jasa Lingkungan mereka menyediakan (RUPES) proyek telah diidentifikasi sebagai sebuah program yang bisa mendukung revitalisasi daerah ulu ditinggalkan Kopi dan membantu desa Paninggahan. Didukung oleh World Agroforestry Centre (ICRAF), RUPES mulai beroperasi di wilayah Singkarak pada tahun 2004. Tahap awal proyek RUPES yang terlibat konsultasi dengan masyarakat yang komprehensif dan diskusi dengan desa Paninggahan.








Pada tahun 2006, sejumlah pemimpin lokal yang terlibat dalam proyek RUPES mulai merevitalisasi daerah Kopi ulu. Revitalisasi termasuk penilaian kebutuhan, kepemilikan pemetaan tanah, teknik produksi kopi mengidentifikasi, mengembangkan rencana induk, dan mencari dukungan dana.

Pada tahun 2007, proyek RUPES, bekerja sama dengan Kopi Indonesia dan Cacao Research Center, mulai program revitalisasi kopi melalui dua pendekatan: meningkatkan produktivitas kopi robusta dan; nilai tambah kopi robusta organik.

Sayangnya, program ini dihentikan sebelum waktunya sebagai akibat dari kurangnya kepastian status lahan. Masalah muncul setelah Dinas Kehutanan lahan kepemilikan Barat Sumatera diteliti di daerah dan menyatakan bahwa sejak tahun 1999 daerah itu tidak lagi milik masyarakat tetapi untuk Pemerintah.

Masyarakat menolak kesimpulan ini dengan alasan bahwa Dinas Kehutanan tidak memberitahu mereka atau berkonsultasi dengan pemilik tanah dalam menentukan batas-batas lahan yang mereka telah mempertimbangkan hak mereka selama beberapa dekade.

Mengingat statusnya sebagai lembaga penelitian di bawah naungan Departemen Kehutanan, World Agroforestry Centre dan juga tim proyek RUPES harus menunggu sampai pemerintah dan masyarakat mencapai kesepakatan tentang status tanah sebelum melanjutkan program revitalisasi, yang berarti Program thatthe tidak aktif selama kurang lebih empat tahun.

image_gallery.png

Pada bulan Juli 2011, Departemen Kehutanan melalui SK Menteri Kehutanan no.304/Menhut-II/2011 menyetujui perubahan status dari beberapa kawasan hutan di beberapa lokasi di Sumatera Barat. Daerah kantong kopi di Paninggahan termasuk dalam this.Figure 3. ICRAF staf menjelaskan dan mensosialisasikan Kopi Ulu Program revitalisasi di Paninggahan selama seminar (Photo credit: Bubung Angkawijaya)

Sebagai tanggapan, RUPES, bersama-sama dengan Dinas Kabupaten Solok Kehutanan dan Pemerintah Nagari Paninggahan, melakukan lokakarya satu hari pada tanggal 19 Desember 2011, berjudul, 'Sosialisasi penggunaan lahan Status kopi ulu perkebunan sebagai bentuk pengelolaan hutan lestari dengan masyarakat di nagari Paninggahan '. Lokakarya ini diadakan di Nagari Wali (kepala pemerintahan masyarakat) kantor dan 35 orang berpartisipasi, termasuk perwakilan dari kelompok-kelompok seperti World Agroforestry Centre / RUPES, Kabupaten Solok Dinas Kehutanan dan Bappeda Solok (Kabupaten Solok perencanaan dan agen pembangunan), sebagaimana serta perwakilan dari masyarakat Paninggahan.

 Lokakarya ini menjelaskan kepada masyarakat Paninggahan status perkebunan ulu Kopi berdasarkan publikasi dari kebijakan Pemerintah baru yang berkaitan dengan pengelolaan lahan dan kawasan hutan. Masyarakat menuntut kepastian hukum yang jelas tentang status tanah dan juga mencari dukungan dari Pemerintah untuk melanjutkan program revitalisasi. Selain itu, lokakarya ini mencari kesepakatan mengenai bentuk pengelolaan lahan perkebunan di masa depan.

Lokakarya ini menghasilkan beberapa hasil, seperti hampir sepenuhnya mengklarifikasi status perkebunan ulu Kopi dan mengkonfirmasikan bahwa itu akan dikembalikan kepada masyarakat Paninggahan. Namun, karena keputusan tersebut belum dikeluarkan oleh pemerintah daerah, masyarakat diminta untuk bersabar dan menunggu sampai masalah ini diselesaikan secara hukum sepenuhnya.

Selain itu, World Agroforestry Centre berharap bahwa isu yang diangkat dalam lokakarya akan ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah dan termasuk dalam agenda badan-badan pemerintah seperti Bappeda. Itu diantisipasi bahwa di masa depan program ini bisa meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat serta mendukung pengembangan perkebunan agroforestry.



Gambar

Top: Kopi ulu, asli Robusta spesies kopi, tanda plasma nutfah kaya Paninggahan (Foto:
Reno yasri)

Tengah: Peta daerah kantong ulu Kopi di Paninggahan. Enclave ditampilkan dalam warna merah (Sumber: Nagari Paninggahan kantor)
·         Google Translate for Business:Translator ToolkitWebsite TranslatorGlobal Market Finder



PANINGGAHAN
           Paninggahan adalah sebuah nagari di kecamatan junjung sirih,kabupaten solok yang terletak di bibir pantai danau singkarak dan kaki bukit junjung sirih yang berbatas langsung dengan wilayah padang.populasi penduduk paningahan di perkirakan+20.000(dua puluh ribu lebih),belum termasuk yang ada di perantauan.sektor pertanian adalah mata pencarian utama masyarakat paninggahan,di samping pegawai,pedagang juga pencari ikan (nelayan)di hamparan danau singkarak,paningahan di pimpin oleh seorang pimpinan yang di sebut wali nagari,paningahan terbagi beberapa jorong(setingkat desa)jorong Gando,kp tangah,ganting pp,parumahan,subarang dan kotobaru tambak.